Home » » Wilmar Targetkan Produksi Biodiesel Dua Ribu Ton

Wilmar Targetkan Produksi Biodiesel Dua Ribu Ton

Written By dupor dp on 17 December 2012 | 08:02

GRESIK - DumaiPortal.com - Perusahaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit Wilmar Indonesia berencana menambah kapasitas produksi pengolahan minyak nabati untuk menjadi bahan bakar biodiesel tahun ini. Perusahaan akan menambah kapasitas produksinya sebesar 2 ribu ton per hari yang terbagi atas seribu ton di Dumai dan seribu ton di Gresik.

Dewasa ini perusahaan telah memiliki kapasitas produksi biodiesel 5 ribu ton per hari yang berada di kawasan pabrik Wilmar di Gresik dan Riau. "Kapasitas di Dumai, Riau 3 ribu ton dan di Gresik 2 ribu ton,” kata Direktur Eksekutif PT Wilmar Nabati Indonesia Taufik Tamin.

Penambahan kapasitas produksi ini sebagai langkah menangkap peluang dari terbitnya aturan pemerintah yang mewajibkan pemanfaatan biodiesel untuk industri sebesar 2 persen dari konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di setiap industri. Pemerintah mewajibkan sektor industri pertambangan mineral dan batu bara menggunakan Bahan Bakar Nabati (BBN) paling lambat 1 Juli 2012.

Aturan itu tercantum dalam regulasi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 32 Tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga BBN sebagai Bahan Bakar Lain yang menyebutkan, pemegang izin usaha niaga BBM dan pengguna langsung BBM wajib menggunakan BBN atau biodiesel secara bertahap. Hal ini untuk meningkatkan pemanfaatan bahan bakar lain dalam mewujudkan ketahanan energi nasional dan mengurangi konsumsi BBM.

Menurut Taufik, dengan keluarnya regulasi itu, Wilmar Indonesia meyakini mau tidak mau penjualan biodiesel akan meningkat tahun ini. "Kami sudah melihat potensi itu, karena itu kami menambah produksi 2 ribu ton per hari,” ujarnya.

Selama ini konsumsi biodiesel dalam negeri tergolong rendah atau hanya sekitar 35 persen dari total produksi 1,6 juta ton per tahun. Sedangkan sisanya atau 65 persen dari total produksi itu untuk diekspor.

"Pemerintah memang harus mendukung hilirisasi sektor energi terutama bahan bakar yang ramah lingkungan. Karena dengan begitu, Indonesia nantinya akan kebanjiran investasi,” kata dia.

Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 128 tahun 2011 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar ikut mendukung berkembangnya hilirisasi produk. PMK yang merestrukturisasi besaran tarif bea keluar atas ekspor kelapa sawit, CPO, dan produk turunannya ini memang bertujuan untuk mendukung hilirisasi industri sawit dalam negeri.(dpo)
Share this article :

Terbanyak Dibaca